Berani Tampil Beda

Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego  menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.  Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan  kami , maka Ia akan melepaskan  kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan  itu.” Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa.

(Daniel 3:16-19)

Para remaja, sering kali sangat mudah terpengaruh dengan gaya hidup, gaya busana, gaya bicara, dan lain sebagainya. Kebanyakan dari mereka akan meniru gaya yang dirasa sedang nge-hits atau keren. Para remaja juga sangat mudah dipengaruhi, entah itu pengaruh dari teman bergaul maupun dari sosial media. Misalnya saat ada seorang yang memposting foto di sosial media tentang dirinya yang sedang berada di suatu tempat yang Instagramable, maka akan banyak orang yang berbondong-bondong datang ke sana hanya untuk foto, hanya demi dianggap keren, hanya demi di-post dan mendapatkan banyak like.

Coba bandingkan dengan kisah dalam Kitab Daniel pasal 3. Dalam kitab Daniel 3:12 diceritakan tentang 3 orang Yahudi yaitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang berani tampil beda meski harus menanggung suatu resiko. Saat raja memberi perintah untuk memuja dewa dan menyembah patung emas yang didirikan raja, mereka memilih untuk tidak melakukannya karena tahu bahwa hal tersebut bertentangan dengan firman Allah. Meski semua orang tunduk dan mengikuti perintah raja. Namun Sadrakh, Mesakh dan Abednego berani tampil beda. Keberanian mereka inilah yang membuat Allah memberkati dan bahkan menyelamatkan mereka dari bahaya.

Sebagai remaja Kristen, tentu kita tidak dilarang untuk mengikuti trend perkembangan zaman. Boleh menjadi anak yang gaul atau kekinian, tapi kita harus bisa memilah mana yang patut diikuti dan mana yang tidak patut untuk diikuti. Sama seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menjadikan firman Allah sebagai pedoman dalam melakukan segala sesuatu, demikian juga dengan kita. Mari kita pakai firman Allah sebagai alat penyaring utama dalam menentukan gaya dan perbuatan kita.

 

created by : Filina Widhianingtyas